PEBISNIS ITU SIKAP MENTAL BUKAN PEKERJAAN


Hari-hari terakhir, wacana tentang wirausaha, menjadi pebisnis, membuka usaha sendiri mulai sering kita dengar. Seminar-seminar bagaimana menjadi pebisnis profesional dan handal juga dibuka dimana-mana dengan peserta ratusan bahkan ribuan orang. Seharusnya kemudian muncul banyak bisnis-bisnis baru minimal separuh dari jumlah peserta seminar kan? Tapi kenapa yang muncul hanya

segitu-gitu saja? Peningkatannya tidak signifikan? Padahal kran dukungan modal, ilmu bahkan mentor-mentor bisnis bertebaran.

Jawabnya cuma satu… SIKAP MENTAL

Banyak yang menganggap, menjadi wirausahawan itu adalah pekerjaan. Membuka usaha adalah pekerjaan. Berbisnis adalah pekerjaan. Padahal sejatinya, bisnis itu adalah sikap mental. Mental wirausahawan, mental petarung, mental pemberani.

Kita boleh buka usaha, apapun itu. Tapi kalau mentalnya masih mental karyawan, nggak butuh waktu lama agar usaha itu tutup. Dan seorang karyawan-pun kalau mentalnya mental pebisnis, maka dia akan punya penghasilan melebihi bosnya.

Ada satu kisah, seorang Mahasiswa. Mentalnya adalah mental pebisnis walaupun jalan yang dia tempuh adalah jalan karyawan. Begini ceritanya: Sesaat ketika dinyatakan lulus dan masuk ke perguruan tinggi, dia cuma memikirkan satu. Bagaimana mendapatkan pekerjaan sambilan secepatnya. Dan cara paling cepat dapat pekerjaan adalah dengan menjadi OB alias Office Boy. Kalau mau lebih cepat lagi, jadilah OB yang gak dibayar. Benar sekali, dalam sekejab dapatlah dia pekerjaan menjadi sebuah OB di dealer mobil.

Kerjanya bagus dan serius (mental pengusaha). Si bos-pun senang. Dari kerja OB sukarelawan, dia dapat komisi dari si bos atas kerja bagusnya. (senangkan orang lain, anda akan senang nanti). Gak lama, dia naik pangkat. Dari OB menjadi tukang bersih mobil. Tiap hari mobil dilap sampai kinclong. Lagi-lagi bos puas. Dan diapun dapat tugas tambahan melayani pembeli. Soalnya ketika para sales tidak ada ditempat dan kebetulan ada calon pembeli, dia mampu melayani si pembeli hingga tuh pembeli karena merasa sangat dihargai akhirnya beli deh satu mobil.

Karirnya terus meningkat hingga dia dipercaya belanja mobil untuk kebutuhan dealernya. Ingat, nih pemuda masih Mahasiswa. Jaringannya makin banyak gara-gara sering belanja mobil.

Akhir cerita, setelah lulus, dia punya cukup modal untuk membangun dealer sendiri, nyari mobil dan tentunya dengan ilmu pemasaran yang terasah selama dia kuliah, dia bisa mensukseskan bisnisnya melebihi dealer tempat dia bekerja dulu. Cerita ini ada di buku Spiritual Financial Quotient karya Iman Supriyono.

Sayangnya kita ini kan walau pebisnis tapi mentalnya karyawan. Lihat bagaimana cara kerja karyawan.

RUTINITAS : Hari-hari berlalu seperti kaset rusak. Muter aja diulang-ulang gak ada perubahan

TAKUT HAL BARU : Kalau ada kerjaan baru, strategi baru, tempat kerja baru, atasan baru, biasanya mengeluh padahal belum juga dilaksanakan

MENUNGGU KERJAAN : Karyawan suka menunggu kerjaan daripada mencari kerjaan. Prinsipnya kerjaan saya selesai lalu santai. Kerjaan lain biar diurus bagiannya masing-masing. Ngapain ngerjain kerjaan orang.

LEBIH SEMANGAT MINTA NAIK GAJI DARIPADA NAIKKAN KONTRIBUSI : Kontribusi pada perusahaan gitu-gitu aja tapi gaji minta naik tiap tahun. Alasan naik gajinya juga gak masuk akal, gara-gara beras naik dan BBM naik. Emangnya perusahaan lembaga sosial yang ngurus sembako?

MALES BELAJAR : Karyawan biasanya jauh dari buku dan dekat dengan koran. Jangankan ikut seminar, training atau lainnya, baca 2 halaman buku aja udah pusing. Mereka lebih suka santai ngopi dan baca koran yang isinya pembunuhan, perampokan dan pemerkosaan.

PENGEN TERLIHAT KAYA WALAU FAKIR : Suka beli barang-barang mewah, elektronik, mobil baru, rumah direnovasi tiap tahun, baju baru tiap bulan, jalan-jalan ke sana-sini. Tapi sebenarnya hutangnya besar. Investasi nol.

Nah, jika anda menjalankan bisnis tapi masih punya sifat-sifat itu, maka berarti anda pebisnis bermental karyawan. Lama suksesnya kalau nggak mau dibilang gak bakal sukses. Walau anda punya uang banyak dan bisa bangun rumah makan tapi kalau mentalnya masih seperti diatas, insya Allah cepet tutup tuh rumah makan.

Tapi jika anda punya mental sebaliknya. Walau modal gak punya, insya Allah sukses sudah di depan mata. Gak perlu minder jadi karyawan, yang penting mentalnya pengusaha. Daripada anda nekat keluar kerja, buka usaha sendiri tapi mental masih mental karyawan, itu sama aja bunuh diri.

Penulis : LUTVI AVANDI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s